Dibanding permasalahan boleh atau tidak, dilema yang sesungguhnya ada pada seberapa banyak makeup yang pantas dikenakan oleh anak-anak. Sebagai contoh, beberapa anak di tingkat Sekolah Dasar diperbolehkan memakai lip balm, namun wajib menunggu hingga berusia 17 tahun sebelum mulai memakai eyeshadow dan foundation. Di sini, anda dan pasangan sebagai orangtua perlu menetapkan batasan yang realistis.

Idealnya, merias anak dengan makeup tak jadi masalah di saat-saat tertentu, seperti misalnya lomba Kartini atau pentas seni. Dalam konteks itu, makeup dimanfaatkan untuk menegaskan raut wajah, menyesuaikan dengan acara.

Namun ketika sang anak ingin menggunakan makeup agar terlihat lebih dewasa, maka hal itu dapat dianggap kelewat batas. Contohnya, lipstick berwarna merah atau fuchsia, dengan smoky eyes dan blush on. Pemakaian makeup sebanyak ini tak sesuai dengan umur anak, dan tentunya tak sesuai dengan suasana sekolah. Ditambah lagi, apabila anak masih belum dapat membersihkan makeup dengan benar, penggunaan makeup malah dapat menimbulkan masalah pada kulit.

Secara psikologis, penting bagi orangtua untuk menanamkan pola pikir bahwa penampilan wajah mereka bukanlah hal yang terpenting. Dorong mereka untuk terus memperbaiki dan meningkatkan skill, misalnya di bidang akademik, seni, atau sosial. Ini akan mengajarkan bahwa inner beauty dan kemampuan mereka yang akan menjadi daya tarik.

Makeup yang mengubah bentuk maupun fitur-fitur wajah dapat menjadi pesan terselubung, bahwa ada masalah dalam penampilan mereka yang perlu diperbaiki. Dengan membatasi penggunaan makeup anak, anda menyampaikan bahwa anda mencintai mereka apa adanya, dan penampilan bukanlah hal yang utama.

 

source: http://www.dailymail.co.uk/femail/article-1164888/Should-let-year-old-girl-wear-make-up.html